Tuesday, 19 February 2013

KECAP

Kisah ini telah dimuat di tabloid Mom&Kiddie edisi 12 tahun VII (Februari 2013). 




 Si kecil Aira (21 bulan) senang sekali makan pakai kecap. Semua menu yang berbau kecap, pasti ia suka. Mulai dari sate, ikan/ayam bakar, semur, sayur bumbu kecap, bahkan kalau tak ada kecapnya, ia akan meminta dibubuhi kecap pada menu yang aku buat. Entah meniru siapa yang pasti setiap waktunya makan harus selalu ada kecap. Untuk 1 botol kecap berukuran 275 ml hanya bertahan kurang dari 1 bulan. Terbayang bagaimana gemarnya ia dengan cairan kental manis berwarna hitam ini.

“Ila, mamam yuk!” Bujukku suatu hari.
“Kecap!” Sahutnya lantang. Itu berarti ia mau makan jika ada kecap. Padahal saat itu aku masak sayur sop dan tuna goreng tepung. Begitu aku selesai mewadahi porsi makannya dalam mangkuk kecil dan memberikan pada nya, ia melongok ke dalam mangkuk itu.
“Kecap, mamah!” Ujarnya.
Aduh, yang benar saja tho, dek? Masa’ sayur sop dikasih kecap? Tapi ya sudahlah, aku turuti apa maunya selama ia mau memakannya sampai habis.
Pernah suatu ketika ada kejadian lucu. Aku membawa semangkuk kecil es krim. Kemudian aku tawari padanya yang sedang asyik bermain puzzle.
“Ila mau?” Tanyaku. Sambil menyodorkan semangkuk es krim itu. Tanpa dilihatnya lagi ia langsung teriak, “Kecaaap!”
Spontan aku tertawa mendengarnya. “Mbok dilihat dulu tho dek isi mangkuknya? Masa’ es krim dikasih kecap?” Kataku. Ia pun menoleh dan melongok ke dalam mangkuk.
“Mau, mamah!” Serunya dan langsung merebut mangkuk es krim itu dari genggamanku.
“Mau dikasih kecap?” Tanyaku bercanda. Ia menggeleng kuat-kuat dan melahap es krim itu sesendok demi sesendok. Hehehe... Aira... Aira... 

Monday, 18 February 2013

MEMBUAT POSTER PRIBADI


Hai... hai... belajar desain lagi yuk! Masih yang simpel-simpel aja kok. Kali ini kita bahas cara membuat poster sendiri.
Kita mulai step by step-nya yaa...

 Aktifkan atau open software Indesign-nya pada laptop/komputer anda.


Setting page size area desain. Kali ini saya menggunakan ukuran A3. Dengan settingan sbb :
Open Tool File>New Document>Pada kolom Page Size pilih A3, Margin 10mm dan jangan lupa aktifkan Bleed 3mm dan Slug 8mm. 



Setelah itu, placing foto pilihan anda pada area desain. 
File>Place>Pilih foto yang diinginkan.
Lalu, tarik foto menggunakan Ctrl Shift yang ditekan secara bersamaan kemudian besarkan foto menyesuaikan area desain hingga pembatas bleed
Maka akan tampil seperti ini, 


Kemudian, buat sebuah kotak menggunakan rectangle tool (M) menyesuaikan garis tepi area desain. Lalu perbesar ukuran outline nya dengan mengaktifkan stroke dan mengubah ukurannya sesuai keinginan. 
Lalu, beri efek timbul atau efek dimensi pada outline tersebut dengan cara meng klik kanan mouse anda, lalu pilih Effect>lalu centang drop shadow, inner shadow, dan basic feather. Maka, tampilan akan menjadi seperti ini, 


Kemudian, buat kotak baru dengan menggunakan rectangle tool (M) juga. Namun kali ini ubah bentuk outline dengan type Dashes (garis putus-putus).
Copy satu lagi hingga ada dua garis dashes. Beri nama sang pemilik foto dan beri efek sesuai keinginan. 
Contohnya seperti berikut,


Anda bisa menambahkan beberapa elemen sebagai pemanis. 
Seperti contoh ini,


Nah... sebagai langkah terakhir, setelah di print anda bisa menempelkan pada gabus atau strowboard dan memajangnya di dinding rumah anda. Mudah 'kan?! 

Sebagai catatan, untuk harga print A3, masing-masing wilayah berbeda-beda. Untuk wilayah Jakarta harga dimulai dari Rp.6000/lembar A3 untuk 1 muka. 
Selamat mencoba ya. Semoga bermanfaat!! 



Monday, 11 February 2013

DESAIN KARTU UCAPAN


Pernah menerima kartu ucapan dari teman, kerabat, orang terdekat dan terkasih kita? Bagaimana rasanya? Walau saat ini penggunaan smartphone semakin canggih, fitur-fitur pun semakin lengkap, mudah dan unik namun kartu ucapan tetap saja memberi ruang tersendiri bagi si penerima.
Nah, kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang mendesain kartu ucapan untuk si kecil yang akan berulangtahun yang mudah untuk diikuti. Simak yuk!

Langkah pertama, open/ aktifkan program software Indesign.


Setting area sesuai keinginan. Kali ini saya memakai ukuran width 150mm dan Height 100mm serta orientation landscape. Sementara margins and columns pada tool layout diatur dengan ukuran top, bottom, inside, dan outside masing-masing 5mm.    



Maka akan nampak tampilan sbb :

Tampilan area desain 

Setelah itu, saya placing salah satu foto si kecil pada area desain di atas, hingga menjadi seperti ini.


Cara placing, pilih tool file>Place>kemudian pilih lokasi image>ok. Setelah itu, pilih salah satu contoh  frame seperti dibawah ini untuk mempercantik foto. Placing sampel frame pada area desain dengan langkah placing yang sama seperti sebelumnya. 


Setelah itu, gabungkan frame dengan foto dan atur ukuran foto menyesuaikan frame yang ada, hingga menghasilkan seperti gambar berikut,

Hasil setelah frame dan foto digabung

Jangan lupa tekan Ctrl G untuk menggabungkan foto dan frame menjadi satu. Untuk melepas ikatannya menggunakan Ctrl shift G, maka image kembali berpisah satu-satu kebentuk awal. 
Langkah berikutnya, buatlah kalimat atau kata-kata yang ingin diucapkan untuk si kecil. Cara membuat kotak kata dengan menggunakan cara sbb : 
Klik Type Tool (T), tekan mouse dan buatlah sebuah kotak kata. Untuk ukuran kotak bisa disesuaikan berdasarkan kalimat. Kemudian, klik kotak tersebut, dan mulailah mengetikkan kata-kata yang ingin anda ungkapkan. Misalnya :

                                                                                                                             
Setelah itu, pilihlah jenis font yang menarik dari tool character formatting control  atau dilambangkan dengan lambang huruf A yang terdapat di sisi pojok kiri atas toolbar. Sementara untuk mewarnai font, caranya pilih tools swatches yang berada di sisi kanan area desain. Dilambangkan dengan kotak seperti papan catur berwarna-warni. Mulailah berekspresi dan mengeksplorasi kemampuan anda. Susun sesuai keinginan. 
Anda bisa menghiasinya dengan menambahkan kotak pada kalimat, seperti contoh dibawah ini,

                            
Untuk merubah bentuk kotak, anda dapat menggunakan variasi pilihan pada kolom type yang terdapat pada tools Stroke disebelah kanan area desain. 


Pada desain ini menggunakan type stroke Japanese Dots. Hasilnya seperti ini,


Untuk mempercantik, saya menambahkan ornamen bunga hingga menghasilkan desain seperti dibawah ini, 
Adapun langkah membuat bunganya, yaitu :
Buat sebuah lingkaran menggunakan ellipse Tool. (L).
Kemudian pada Tool Stroke, pilih weight dengan ukuran 4pt. 
Dengan bentuk/jenis type stroke Wavy.
Jangan lupa beri warna sesuai kesukaan.
Untuk tengah kelopak bunga, menggunakan ellipse tool (L).
Untuk bagian tengah menggunakan ellipse tool juga dengan ukuran lebih kecil dari kelopak. 
Susun bagian-bagian tersebut hingga menyerupai bunga. Jangan lupa untuk menggabungkan semua bagian menjadi satu group dengan cara Ctrl G

  
Maka hasilnya akan seperti ini, 


Untuk bunga yang sudah digroup, jika ingin diperbanyak seperti yang terlihat pada gambar, cukup dengan cara mengaktifkan gambar bunga tersebut, lalu tekan tombol Alt pada keyboard, tahan dengan mouse, seret dan kemudian lepaskan. Atau bisa juga dengan cara meng copy paste. Langkah ini sama-sama untuk menduplikat sesuatu. Sementara untuk mengecilkan ukurannya agar tak terlihat sama, dengan cara menekan Alt Shift Pilih salah satu sudut image dengan mouse. Langkah ini berguna untuk mengecilkan ataupun membesarkan sesuatu. 

Nah, semoga tutorial sederhana ini dapat berguna. Selamat mencoba. 



DIANTARA PUING-PUING HATI



Image adalah karya manual milik pribadi


Aku menarik nafas dalam-dalam. Entahlah, terkadang aku tak faham dengan jalan fikiran orang. Banyak manusia ciptaan Tuhan yang bertingkah sangat memuakkan, penjilat, munafik, mencari aman, ah…

Tuhanku Yang Agung… mengapa dunia begitu memuakkan bagiku? Apakah aku yang sebenarnya durjana? Ataukah aku hamba yang merasa suci? Ah, Astaghfirullah… ampuni hamba, Tuhan.

Tuhanku yang Maha Pengampun… Aku merasa sebagai hamba yang sangat egois. Seorang hamba yang sangat sulit untuk memberi kata maaf. Terbayang dalam benakku, peristiwa enam tahun silam ketika mengikuti ujian SPMB di daerah Cipinang, Jakarta Timur. Aku yang berdomisili Tangerang, harus bolak-balik Tangerang- Cipinang selama tiga hari untuk mengikuti ujian tersebut yang bertempat di salah satu SMU yang ditunjuk panitia penyelenggara. Ternyata saat itu, sepupuku yang berasal dari sekolah berbeda denganku ikut pula sebagai peserta SPMB di lokasi yang sama. Rumahku dengannya hanya berjarak satu kilometer. Ia membawa mobil pribadi selama mengikuti tes. Namun sedikitpun Ia tak pernah memberi tumpangan walau sekedar basa-basi. Di lokasi ujian pun kala kami berpapasan atau bahkan berdiri bersebelahan menunggu waktu masuk, Ia tak pernah menegur bahkan untuk melempar secuil senyum dipinggir bibirpun tidak sama sekali. Padahal, aku sering mendahului memberikan senyumku untuknya. Aku tahu, Tuhan… aku tak berharap lebih dari sosoknya. Namun setidaknya, tak bisakah terjalin hubungan baik sebagai saudara?

Masih teringat  bagaimana kalimat yang pernah Ia luncurkan tentangku dihadapan teman-teman saat bertemu di sebuah bilangan Mal di Karawaci Tangerang. Ketika itu aku menyapa beserta keluarganya yang juga sedang berjalan-jalan di Mal tersebut. Namun yang kudapati adalah balasan yang menyakitkan.
“Siapa kamu? Berani-beraninya menegur? Kamu itu salah orang! Heh, denger ya! Orang miskin kayak kamu ngga mungkin bersaudara dengan aku! Aku orang terhormat dan kaya raya! Sedangkan kamu dan keluarga kamu hanyalah orang miskin! Bapakmu itu tidak lebih dari seorang tukang ojek! Apalagi Ibumu. Cuma buruh cuci orang-orang! Status dan derajat kita saja sudah jelas-jelas berbeda! Ngaca dong! Punya cermin ngga sih di rumah? Ngerti cermin ngga? Ups, lupa, di rumah kamu tentunya ngga ada cermin! ‘Kan ngga mampu beli! Untuk makan aja susah!” Seru Dena, sepupuku.
“ Dena! Dia itu mana punya rumah! Tempat yang mereka tinggali itu bukan rumah! Kandang ayam! Ha…ha…ha…” Ejek Ibu Dena, Tante Marry. Tanteku. Tanteku? Ah, sepertinya bukan! Mereka tidak pernah menganggap aku dan keluargaku sebagai saudara. Adalah sebuah aib yang sangat besar bagi mereka jika orang-orang tahu bahwa kami bersaudara.

“ Ngapain kalian kesini? Mau minta uang, ya? Makanya jangan jadi orang miskin! Hidup kok melarat banget!  Dengar ya, kalau mau minta-minta… di ujung jalan sana! Atau di pertigaan lampu merah, bukan di rumah kami yang megah ini! Dan satu lagi, jangan pernah menginjakkan kaki kalian yang kotor, dekil dan bau itu ke rumah kami! Lantai rumah kami terbuat dari marmer yang harganya sangat mahal! Nanti bisa rusak dan lecet lantai ini kalau kalian injak! Dibayar pakai nyawa kalian pun ngga cukup! Tahu! Sana pergi!” Hardik Tante Marry kala itu. Saat keluarga kami berkunjung ke kediaman mereka untuk bersilaturahmi. Ya, peristiwa yang tidak mungkin akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kata-kata yang mereka ucapkan begitu menyakitkan.

Tuhan… terkadang aku menganggap Engkau tak adil! Kami yang telah mati-matian banting tulang, tetap saja hidup dalam kemiskinan dan hinaan.
Kami yang selalu menyembahMu, bersungkur sujud di hadapanMu siang malam, menjalankan apa yang Kau perintahkan, tetap saja hidup dalam kemelaratan. Ikhtiar kami bak tak berpengaruh dan tak berarti apa-apa di mataMu. Jutaan airmata, jutaan doa, jutaan pengharapan laksana mainan rongsok yang tak terpakai. Untaian-untaian rayuan padaMu seperti tak digubris olehMu.

Tuhan, kameraMu tentu masih menyimpan peristiwa beberapa waktu silam. Peristiwa yang membuat ayahku menitikkan airmata. Kala itu, di kompleks rumah, salah satu tetangga kami ada yang mengadakan walimah. Rumah kami terpaut dua rumah dari mereka. Tenda biru pun dipasang hingga batas depan rumah tetangga sebelah. Dan kursi serta meja pagar ayu di letakkan di depan rumah kami. Namun tiba-tiba, Ketua RT berseru,
“ Hei! Siapa yang meletakkan meja dan kursi pagar ayu di depan rumah Pak Dwi? Kalian itu pada buta semua, ya? Lihat dong baik-baik. Rumahnya itu butut dan jelek seperti kandang ayam! Mengapa dijadikan background pagar ayu duduk? Nanti di fotonya jadi jelek, bisa-bisa hasil jepretan foto malah terbakar! Ayo pindahkan! Letakkan di depan rumah tetangga yang lebih bagus!” Perintah Ketua RT pada warga. Aku yang saat itu berada di dalam rumah memalingkan wajah kearah ayah yang berdiri disampingku. Tentu saja ucapan dari Ketua RT terdengar hingga ke rumah. Dan kulihat ayah menitikkan airmata.

Tuhan! Bertahun-tahun kami hidup dalam hinaan hambaMu yang lain. Bertahun-tahun kami berusaha untuk keluar dari kesengsaraan ini. Bertahun-tahun kami mengabdi sebagai hamba. Bertahun-tahun kami ikhlas atas takdirMu. Namun, makian, hinaan, tak jua lepas dari hidup kami.
Kami tak butuh pujian dan sanjungan. Tetapi bukan berarti kami selalu sabar dalam hinaan. Kami bukan NabiMu yang selalu ikhlas dalam menghadapi manusia-manusia dzalim.

Tuhan, masih teringat pula dalam memori otakku kalimat demi kalimat yang mereka lontarkan pada keluarga kami. Gunjingan dan ejekan para tetangga tentang langkah yang diambil ayah dalam mendidik putri-putrinya.

“ Seharusnya Pak Dwi si tukang ojek itu sadar diri! Orang miskin kok nekat nyekolahin anak-anaknya pake kuliah segala! Mau bayar pake daun? Ngga punya duit kok sombong! Cari mati namanya! Orang-orang juga pasti ngga bakalan ada yang mau minjamin duit! Takut nanti ngga dibayar.” Celetuk salah seorang tetangga.
Ibu-ibu satunya lagi menambahkan, “ Iya! Gadai pake rumah juga pasti ngga ada yang mau! Rumahnya jelek banget kayak kandang ayam!”
“ Ee..e… enak saja! Kandang ayam saya saja lebih bagus dari rumahnya! Jangan samakan rumahnya dengan kandang ayam dong! Dia itu kandang burung!” Ujar salah seorang lagi, dan terdengarlah riuh tawa dari mulut  Ibu-ibu penggosip yang tak mutu itu.
Tuhan… mendengar itu kami hanya bisa mengelus dada dan akan selalu menanyakan padaMu, hingga kapan celaan demi celaan akan berakhir bagi keluarga kami.

“ Eh, Jeng! Tahu ngga? Si Najma.. anak ke tiga Pak Dwi kuliah di Sekolah Penerbangan! Kok bisa, ya? Masuknya saja bayar empat juta. Mereka mau bayar pake apa? Tiap hari saja makan cuma sama garam!” Ucap seorang ibu muda saat berbelanja di pedagang sayur keliling.
“ Lha, Ibu emangnya ngga tau? ‘Kan si Nadya, kakaknya Najma, jual diri dulu buat ngumpulin uang! Makanya kalo pulang selalu malam! Mangkal dulu! Pelanggannya om-om! Mangkalnya  kalo ngga di Taman kota, ya di Monas! Ih, amit-amit! Pasti udah ngga perawan lagi! Udah di emek-emek sama pelanggannya!” Seru Ibu yang agak tua.
“ Eh, Jeng! Makanya kalo miskin jangan mimpi yang muluk-muluk! Pake acara mau kuliah tinggi!” Seloroh ibu yang lainnya. Saat itu, ibuku tanpa sengaja melewati jalanan yang sedang dikerumuni para tetangga tersebut, hingga pembicaraan mereka terdengar ke telinga ibuku. Ibu hanya mengelus dada menahan duka.
Sesampainya di rumah, ibu duduk di sebuah kursi kayu lapuk di ruang tengah. Wanita paruh baya itu terdiam lama. Aku menatap heran dan ku hampiri beliau.
“Kenapa, bu? Sakit?” Ujarku sambil mengusap punggung ibu.
Ibu menggeleng pelan.
“Lalu kenapa? Ceritalah, bu!”
“ Ibu sedih, Ma. Para tetangga membicarakan kita macam-macam. Kakakmu dibilang jual diri di Monas. Padahal ‘kan kakakmu kuliah sambil kerja, Ma. Kenapa nasib kita begini ya, Ma?” Dan kulihat bulir-bulir airmata ibu mulai menetes.
Aku menarik nafas sesaat.
“ Bu, biar saja mereka membicarakan kita. Mereka tidak pernah tahu apa yang kita jalani dan rasakan. Mereka tidak pernah memperdulikan keberadaan kita. Mereka terbiasa memandang orang dari kacamata harta dan dunia. Biarkan saja, bu. Suatu saat, kita pasti bisa lebih sukses dari mereka. Suatu saat, kita pasti bisa di atas. Bumi terus berputar,  ibu jangan khawatir. Biarkan saja saat ini kita selalu dihina. Allah Maha Kaya, bu. Jatah kita tidak mungkin diambil orang lain. Ibu sabar saja ya, bu?!” Tuturku berusaha menenangkan ibu. Padahal, kalimat itu lebih tertuju pada diriku sebab aku sendiri tak tahu kapan saat itu tiba.

Andai dapat mengeluh, tentu aku sudah meratap sejak dulu. Lelah rasanya diri ini mendengar kalimat demi kalimat menyakitkan yang datang bertubi-tubi. Mengapa manusia senang sekali menghina manusia yang lain? Mengapa manusia selalu menganggap dirinya lebih suci dari yang lainnya? Mengapa manusia selalu saja menemukan aib sekecil apapun pada diri orang lain namun melenyapkan aib sendiri yang sebesar gunung? Mengapa kemiskinan selalu dianggap suatu keburukan dan selalu terpojokkan? Mengapa manusia selalu menganggap dirinya lebih pintar dan lebih mengetahui daripada Takdir Tuhan? Mengapa manusia selalu melihat hanya pada satu sisi kehidupan? Mengapa manusia lebih menggunakan kacamata sisi nafsu dan membunuh hati nuraninya sendiri? Mengapa manusia hanya menilai manusia lainnya sebatas harta, pangkat dan kedudukan? Mengapa bukan ketaatan, kepatuhan pada Tuhan, kejujuran dan moral yang baik yang menjadi cermin? Ah, begitulah manusia. Insan yang dicipta dengan percampuran sisi baik dan buruk, dengan kelebihan dan kekurangannya.

Tahun demi tahun bergulir. Perubahan telah terjadi pada keluarga kami. Tuhan… aku tak tahu apa arti semua ini. Apakah ini  hasil yang harus kami petik atas buah kesabaran kami? Ataukah… ini bagian dari ujianMu pada kami sebagai hamba yang selalu bersimpuh dihadapMu?
Kini, kehidupan kami berputar seratus delapan puluh derajat.
Aku, Najma… masih Najma yang dulu. Walau banyak yang berkata kini aku sudah sukses karena pekerjaanku sebagai Teknisi Pesawat Udara di sebuah Bandara Internasional di Cengkareng. Kakakku Nadya, bekerja sebagai Desainer Grafis di sebuah perusahaan penerbitan dan percetakan ternama di daerah  Palmerah dengan gaji yang menggiurkan. Sementara ibu, kini tak lagi menjadi buruh cuci orang-orang. Beliau mengurus usaha Cattering yang baru dirintis dua bulan ini. Sedangkan ayah, membuka usaha bengkel bersama temannya. Rumah yang dicerca tetangga karena seperti kandang burung, berubah menjadi megah. Aku tak pernah bermimpi akan seperti ini. Aku dan kak Nadya sudah sangat bahagia bisa membahagiakan kedua orangtua karena pekerjaan yang kami peroleh. Kami tak pernah berkhayal sebelumnya atas semua kemewahan yang telah didapat. Saat itu, kami sangat takut…walau hanya untuk sekedar bermimpi.

Hidup kami kini benar-benar berubah. Tak ada lagi ejekan, hinaan, makian, cemoohan, pandangan sinis. Seakan semua itu telah terhempas bersama lenyapnya rumah burung kami.
Kini, beramai-ramai manusia mendekati kami. Menyanjung, mengelu-elukan, dan beramai-ramai berseru “Aku saudaramu! Kamu saudaraku! Kita ini bersaudara sejak dulu!”  

“Eh, Bu Dwi! Mau kemana, Bu? Ayo mampir dulu kerumah! Kebetulan di rumah lagi bikin bolu karamel tuh!”

“Pagi, Najma! Mau berangkat kerja, ya? Denger-denger sebentar lagi mau beli mobil, ya? Nanti kalo sudah punya, kita boleh nebeng jalan-jalan, ya?”

“Pak Dwi, maaf lho kalo dulu kita kurang akrab. Kita terlalu sibuk soalnya. Mulai sekarang kita akrabin aja. Bertetangga itu ‘kan harus saling mengenal. Iya ‘kan, Pak? Ngomong-ngomong… Neng Nadya sudah punya calon belum, Pak? Itu anak saya si Firman naksir berat lho sama Neng Nadya. Sudah sejak dulu. Kenapa kita ngga besanan saja, Pak? Toh kita dan anak-anak juga sudah saling kenal, kan?”

Ah, masih banyak lagi kalimat-kalimat penjilat dan memuakkan bagiku. Mereka berbondong-bondong mendekati kami. Memuja kami laksana dewa. Setiap hari, ada saja yang mereka kirim pada kami. Berbondong-bondong mereka berusaha menarik simpatik kami.
Senyumku getir, Tuhan. Mengapa Kau cipta manusia-manusia seperti itu? Mengapa begitu langka manusia yang mau berkawan dengan si miskin? Mengapa banyak manusia yang berteman hanya karena harta, jaya, kedudukan, atau karena kepintaran. Begitu jarang orang yang mau berkawan dengan insan nista, insan bodoh, insan onar, insan papa, berkawan dengan tulus tanpa melihat status? Begitu sulitkah memiliki sahabat?

Sahabat adalah sesuatu yang nyata. Ia bukan impian. Ia bukan buatan dan khayalan dalam mimpi. Ia hadir sebagai penyemangat jiwa. Tuhan, Engkaulah sahabatku. Yang kekal sepanjang masa. Engkau yang selalu hadir saat banyak manusia menertawakan. Engkau yang selalu ada, saat manusia menghinakan. Engkau jua yang selalu seka airmata kami dalam barisan ayat-ayat suci dan janjiMu. Tak guna semua ini jika Engkau berpaling membenci kami. Jangan pernah tinggalkan kami sendiri. Karena hanya Engkau yang mampu membahagiakan dan membuat damai jiwa.  **

       

Wednesday, 30 January 2013

EVENT LACTAMIL MAMA CARE



Event yang digelar tanggal 22 Desember 2012 di Prive Club, Fx Sudirman Lt.8 pukul 9-siang lalu nampak berjalan dengan seru dan  lancar. Peserta yang hadir membludak sampai-sampai ketika aku datang agak kebingungan cari posisi. Untungnya panitia langsung memberi tempat duduk untuk aku dan suami. Kebetulan, acara kali ini aku memang sengaja mengajak suami ikut masuk mendengarkan pembahasan materi. Mengapa? Karena materi kali ini menyuguhkan informasi penting seputar investasi mama untuk buah hati mulai dari proses pembentukan janin, segala virus dan kelainan yang diderita ibu dan janin, serta yang tak kalah penting yaitu investasi dana pendidikan. 

Acara yang dikhususkan untuk merayakan hari Ibu ini terbilang sukses dan menyenangkan. Sayangnya, si kecil kali ini tidak diajak. Padahal ketika di lokasi, banyak anak kecil yang turut meramaikan suasana. Bahkan, sang MC, artis sekaligus Puteri pariwisata di ajang puteri Indonesia tahun 2004, Nadia Mulya juga tidak ketinggalan membawa kedua buah hatinya yang cantik-cantik.

Nadia Mulya dan kedua buah hatinya

Saat pertama keluar dari lift di lantai 8, sebelum memasuki ruangan event, aku dan suami registrasi terlebih dahulu, agak sedikit bingung, kok nampak sepi sekali dari luar. Sedikit parno, jangan-jangan salah tempat?! Begitu kami dipersilakan masuk, ada sang fotografer yang meminta kami untuk berpose sebentar sebagai kenang-kenangan. Yang menyenangkannya, hasil cetakan foto tersebut bisa kami bawa pulang. 

Ini hasil fotonya, lho...

Setelah berpose sejenak, kami menuju ke tengah ruangan. Alamak! Ramai kali! Saking penuhnya sampai-sampai kami tak kebagian tempat duduk seperti yang aku kisahkan diawal. Memang akibat kesalahan sendiri karena datang terlambat. Hehehe...

Ternyata ajang sharing sudah berjalan. Tapi lumayan lha, masih bisa menimba ilmu dari sang dokter ahli.
Menurut salah satu tim ahli Lactamil, perkembangan anak dimulai pada 36 minggu pertama kehamilan. Untuk itu, dibutuhkan ilmu dan pengetahuan bagi calon orangtua dalam mempersiapkan generasi yang sehat.

Sebagai seorang calon ibu, ada beberapa penyakit/virus yang sering terjadi saat kehamilan dan berdampak pada janin, yaitu : 

Toxoplasma, terjadi karena parasit dari hewan yang berasal dari kucing, anjing, daging yang dimasak tidak matang yang menyebabkan kiste.

Rubella,  virus yang dapat menyebabkan tuna rungu. Untuk mengetahuinya hanya dpt diketahui melalui tes darah. kelainan yg disebabkan pada janin yg terkena rubella di usia 0-8 minggu menyebabkan keguguran. 

Anemia, terjadi karena kurangnya sel darah merah pada tubuh dimana jumlah eritrosit dibawah normal yaitu kurang dari 4,15 juta/mm3 serta Hb dibawah normal (untuk pria <13g/dL, untuk wanita <12g/dL). Anemia juga dapat diartikan karena kurangnya oksigen saat terjadi transport oksigen ke seluruh tubuh subnormal. Anemia disebabkan karena kadar Fe yang rendah, terhambatnya produksi eritropoietin oleh sistem imun, kerusakan pada sumsum tulang, dsb. 



Anemia yang terjadi pada anak kecil disebabkan karena anak lahir prematur, dan kurangnya asupan susu formula yang tidak mengandung zat besi. Bisa juga disebabkan karena kurangnya mengkonsumsi makanan yang mengandung Fe serta anak-anak yang vegetarian.
Sementara pada wanita produktif, Anemia terjadi ketika mengalami masa menstruasi hebat yang lebih dari 5 hari, pendarahan uterine abnormal, serta pada saat hamil maupun melahirkan.

Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini :
- Pucat, yang dapat terlihat pada kuku, telapak tangan dan wajah.
- Lemah, letih, lesu
- Mudah sakit kepala dan pusing
- Sesak nafas jika melakukan aktifitas fisik
- Mengalami gangguan mood, sering bingung



Itu sebabnya, dibutuhkan asam folat untuk menanggulangi penyakit ini. Karena asam folat berfungsi untuk :
- Mencegah anemia
- Pembentukan dan maintenance sel baru
- Pembentukan sel pada kehamilan
- Pembentukan DNA dan RNA
- Mencegah Neural Tube Defect




Selesai sharing seputar kehamilan dan janin, disusul dengan share tentang investasi pendidikan anak. Dari hasil sharing, diperoleh ilmu bahwa ternyata data inflasi pendidikan mengalami kenaikan 20% setiap tahunnya. Wuih, tinggi juga ya! Itu sebabnya, sebagai orangtua yang masih memiliki anak balita, sudah harus memikirkan dana pendidikan anak sejak dini untuk pendidikan si buah hati kelak hingga bangku kuliah.

Bagaimana agar orangtua dapat menyiapkan dana pendidikan dengan tepat? Dengan mengikuti asuransi pendidikan, dirasa mampu membantu para orangtua dalam menyiapkan dana ini. Persyaratan yang mudah serta cicilan yang terjangkau membuat para orangtua mulai beralih mengikuti program ini ketimbang dengan menabung di bank seperti menabung biasa atau berinvestasi.


Adapun produk-produk persiapan pendidikan, yaitu :
  • Tabungan pendidikan, kelebihan produk ini ialah memiliki jangka waktu, teratur, disiplin dan ada jaminan hasil. Sementara kekurangannya yaitu tidak cocok untuk jangka panjang.
  • Asuransi pendidikan. Kelebihannya mendapat benefit tambahan asuransi, serta adanya jaminan hasil. Sementara kekurangannya nilai tunai yang dijamin tidak sesuai dengan tujuan.
  • Reksadana. Kelebihannya bisa mengalahkan inflasi, dan cocok untuk segala jangka waktu. Namun kekurangannya ialah tidak adanya jaminan hasil.    

Dari hasil survey dikatakan bahwa, 17 tahun kemudian biaya pendidikan anak untuk tingkat perguruan tinggi bisa mencapai sekitar 645juta. Dengan dana sebesar itu, kita sebagai orangtua dituntut untuk menyisihkan dana 2,6juta/bulan. Tapi jika mengikuti program asuransi pendidikan, orangtua hanya dikenai biaya perbulan sebesar 203 ribu rupiah saja. Nah, pilih mana hayo?

Selepas materi financial dengan pemateri mbak Fitri, acara pun selesai. Dilanjut makan siang dengan menu ala resto. Suasana yang benar-benar menyenangkan. Setelah selesai, aku dan suami menyempatkan berfoto-foto dahulu di depan Prive Cafe.



 Foto koleksi pribadi, view diambil dari luar gedung Prive lt.8


 Foto koleksi pribadi


 Foto Koleksi pribadi

Tempatnya menyenangkan dan begitu tenang. Suasana yang ditawarkan membuat betah untuk berlama-lama.  Sayangnya, aku dan suami sudah harus pulang karena takut meninggalkan si kecil terlalu lama di rumah hanya ditemani mamaku. Ohya, dari event tersebut, aku mendapatkan goodybag menarik sebagai kado istimewa dari Lactamil untuk para bunda di hari ibu ini. 

Goodybag menarik yang didapat



ANAKKU BUAH HATIKU DENGAN SEGALA KISAHNYA

Bunda, apa arti anak bagi anda? Bagi sebagian perempuan, memiliki anak adalah anugerah tak ternilai. Namun bagi sebagian lain, kehadirannya bagaikan bencana. Bagi saya, anak adalah sebuah kisah. Ia memiliki cerita dan skenarionya sendiri. Apa yang dihadirkan, apa yang ditawarkan, selalu memberi ruang tersendiri di bilik hati. 
Bunda, seberapa sayang cinta dan kasihmu pada si kecil? Begitu besarkah hingga melebihi gunung Himalaya? Begitu luaskah hingga melebihi sungai Nil? Begitu indahkah hingga melebihi taman gantung Babylonia? Jika ada yang bertanya pada saya seberapa sayang saya pada si buah hati? Maka jawabnya, selama saya masih terus bernafas. 

Taman Gantung Babylonia_Image diambil dari sini

Bunda, tanpa disadari, ada saat dimana kita seolah hilang kendali. Ketika si kecil membuat ulah yang tak semestinya, spontan kita memarahi, memaki, berucap kasar, mencubit, bahkan mungkin memukul. Tak lama setelah itu, tangisnya pun pecah mengisi sudut-sudut rumah. Dan saat itu, kita malah tambah memarahi karena dianggap membuat ruangan semakin bising dengan suara tangisnya. Sejurus kemudian, diambil langkah penyelesaian agar ia diam. Dimasukkannya ke dalam kamar tidur, atau kamar mandi, dan kunci dari luar. Begitukah, bunda? 

Foto koleksi pribadi

Bunda, anak memiliki kemampuan sendiri-sendiri berdasarkan tingkat usianya. Sudah seharusnya kita sebagai orangtua, lebih bisa memahami keunikan si buah hati. Karena kita adalah sosok dewasa. Sosok yang seharusnya lebih peka dan arif dalam mendidik si kecil. Sosok yang telah matang dalam hal usia. 
Saya, sebagai seorang bunda, pun tak luput dari khilaf. Terkadang lepas kendali seolah merajai diri saat menghadapi aksi si kecil. Ketika anak susah makan, susah diatur, susah disuruh tidur, susah diajak mandi, asyik mencorat-coret dinding ruang, merusak mainan yang baru dibelikan, atau memporakporandakan koleksi mainannya yang baru saja selesai dirapikan, seolah tanpa sadar kita asyik memarahinya akan perbuatannya. Terkadang, saya pun melakukan hal itu. Walau tak pernah hingga memukul (karena anti bagi saya untuk memukul), namun begitu suara tangisnya pecah, seolah saya telah melakukan kesalahan besar dengan melukai hatinya. Saya tak pernah kuat melihat airmatanya mengalir. Begitu ia menangis, hati saya pun ikut teriris. Saya ingat betul bagaimana perjuangan untuk menghadirkan ia dalam pelukan saya saat di ruang persalinan. Saya ingat benar bagaimana rasanya menahan sakit akibat mulas pembukaan. 

Image diambil dari sini

Bunda, jika saya terlanjur memarahinya, maka setiap malam, saat saya menemaninya tidur, saya belai halus rambutnya. Saya cium berulang-ulang keningnya. Saya rengkuh jemari-jemarinya yang kecil. Saya usap punggungnya, dan saya bisikkan ditelinganya sebuah doa sederhana, 
"Anakku, sayang. Maafkan mama. Maaf jika seharian mama sudah memarahimu. Ajari mama tentang arti kesabaran. Ajari mama agar dewasa dan bijak menghadapimu. Ajari mama agar terus mencintai dan menyayangimu. Jadilah selalu sang penyejuk hati bagi mama dan bapak. Jadilah selalu pelita bagi kami. Sayang, mama sangat menyayangimu." 

Bagaimana denganmu, bunda?!  

Friday, 25 January 2013

POTRET KASUS KRIMINAL SEKSUAL ONLINE DI INDONESIA


Penulis : Trance Taranokanai

Dewasa ini kejahatan seksual berkembang dengan pesatnya dan menimpa para remaja. Tak hanya di dunia nyata, dunia maya pun disebut-sebut memegang andil dalam penyebaran virus satu ini. Teknologi yang semakin mudah dan canggih menjadikan khalayak lebih tertarik dengan media ini. Tak ada yang salah dengan kemajuan teknologi. Yang salah adalah si pemakai yang menyalahgunakan keberadaannya. Tak bisa dipungkiri, keberadaan teknologi tak hanya digandrungi namun juga menjadi media penting dimana pergerakannya begitu cepat. Lihat saja, ketika kita mengklik suatu nama yang dibutuhkan, maka dengan mudahnya ribuan situs akan muncul hanya dalam waktu persekian detik. Berbeda rasanya ketika kita mencari di perpustakaan. Tentunya akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Itulah sebabnya, media online lebih digemari oleh khalayak ramai.  
Dari hasil penelusuran google dengan keyword kejahatan terhadap anak lewat online, terdapat sekitar 1.730.000 materi yang membahas topik ini di berbagai websites. Dan berdasarkan salah satu situs di http://sosbud.kompasiana.com per 31 Oktober 2012 dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara pelanggar tertinggi kejahatan seksual online terhadap anak di Facebook sebanyak 6 kasus dengan jumlah upload foto 18,747 gambar.
Selain itu, dalam situs http://www.tempo.co, dikatakan pula bahwa berdasarkan hasil Survei di Indonesia tahun 2008 terhadap 1.625 siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 di wilayah Jabodetabek yang menunjukkan 66% di antaranya telah menyaksikan materi pornografi online. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati itu menunjukkan bahwa materi pornografi diperoleh anak dengan persentase 24% via komik, 18% via games online, 16% melalui situs porno, 14% melalui film dan telepon selular. Berbagai alasan pun dikemukakan mulai dari pengaruh teman, hanya sekedar iseng, hingga takut dianggap tidak gaul. Banyak dari para remaja yang kurang memahami dampak buruk yang ditimbulkan dari materi pornografi tersebut. Sungguh ironis bukan?

Artikelku yang dimuat di majalah Potret edisi 63

Lalu, apa yang negara lakukan pada tindak pidana kasus yang satu ini? Tak ada tindakan signifikan yang sudah diambil oleh aparat penegak hukum dalam memberikan sanksi terhadap para pelaku. Semakin hari tindak kriminal seksual secara online semakin merajalela dengan luasnya. Semua itu terkait karena tak adanya undang-undang yang membatasi usia pengguna media online. Sistem akses yang mudah, murah dan cepat menjadikan momok tersendiri bagi para orangtua akan tumbuh kembang anaknya.
Keberadaan media online diyakini benar manfaatnya, namun disisi lain ia seperti dua sisi mata uang yang saling menyatu dimana ada manfaat namun diikuti oleh kerugian. Sulit rasanya memisahkan dan mencari solusi atas kasus ini. Untuk itu, hal yang paling bijak adalah dengan memberikan edukasi serta penyuluhan kepada para orangtua agar dapat memantau setiap perkembangan dan perilaku si anak. Hal ini juga ditujukan agar orangtua mampu memberikan pemahaman pendidikan seksual yang terbaik dan tepat dalam penyampaiannya pada anak. Karena bagaimanapun juga anak membutuhkan pengenalan pendidikan seksual tersebut ketika anak sudah mulai mengenal anggota tubuhnya. Tentu saja pendidikan ini harus disesuaikan dengan porsi dan usia anak. Hal ini bermanfaat agar si anak tidak memperoleh edukasi seksual dari tempat dan sumber yang salah. Serta sebagai orangtua sudah seharusnya menghilangkan pola fikir bahwa pendidikan seksual pada anak bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Selain itu, penanaman landasan moral, agama dan norma-norma kesopanan harus pula ditumbuhkan oleh para orangtua sejak anak berusia dini. Itu sebabnya, dibutuhkan kedisiplinan dan aturan –aturan yang bermula dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Setidaknya, hal ini diharapkan dapat memberi solusi dan sedikit mengurangi angka kriminalitas seksual online yang terjadi di negara ini.
Sudah selayaknya keluarga memperhatikan buah hati hingga wilayah sosial si anak. Sebuah bentuk perhatian yang tegas, disiplin dan bertanggungjawab namun bukan bersifat pengekangan. Keintiman antara hubungan suami-isteri, orangtua dan anak juga diyakini mampu merubah generasi yang lebih baik. Semua berawal dari rumah. Itu sebabnya, sebaiknya antara ayah dan ibu menyamakan dahulu persepsi dan aturan di rumah untuk anak-anaknya. Kemudian, jalinlah komunikasi yang baik antara anak dan orangtua agar tercipta suasana rumah yang kondusif. Setidaknya, beberapa hal tersebut mampu membentuk karakter untuk generasi yang berakhlak baik sesuai ajaran agama dan norma-norma yang ada. Sehingga, nilai persentase akan tindak kriminalitas seksual melalui online dapat ditekan seminim mungkin. *

BESTIE

Dari sekian banyak teman yang saya miliki, mungkin hanya satu sosok manusia ini nih yang paling nge-klik. Sebab, cuma dia yang berani bicara...